Minggu, 19 Mei 2013

Mutiara di Dalam Kotak
Dari mana keresahan soal peran perempuan ini muncul dalam benak sang proklamator? Alkisah, Bung Karno kerap bertamu ke rumah penduduk tanpa ‘woro-woro‘ (pemberitahuan). Seringkali hanya tuan rumah lah yang menerima kunjungan Sukarno, sementara nyonya rumah tak ikut mendampingi. Kalau toh ditanya soal ini, tuan rumah kerap berdalih, ..sayang seribu sayang, ia kebetulan tidak ada di rumah. Menengok bibinya yang sedang sakit (h.7).
Kejadian serupa itu dialami Bung Karno beberapa kali, hingga suatu saat ia menangkap bayangan seorang perempuan dari balik tabir yang tergantung di pintu pemilik rumah. Sejak saat itu, benak sang proklamator dihantui ketakutan, ..bilakah semua Sarinah-Sarinah mendapat kemerdekaan? Meski kemudian ia mempertanyakan kembali pertanyaannya itu, ..tetapi, kemerdekaan yang bagaimana? Kemerdekaan a la Kartini? Kemerdekaan a la Chalidah Hanum? Kemerdekaan a la Kollontay? (h.9).
Sampai di sini para pembaca mungkin bertanya, dari mana sang proklamator punya pemahaman soal beragam ‘versi’ kemerdekaan perempuan? Di bagian-bagian berikutnya,  Sarinah memaparkan wawasan Sukarno yang teramat luas dan mendalam sebagai bahan argumen tingkat ‘tinggi’ dalam meyakinkan perlunya peran perempuan dalam ‘perjuangan’ (yang belakangan hari dibahasakan sebagai ‘pembangunan’) negara.
Tanpa ragu Sukarno memberikan ilustrasi adanya perlakuan kurang manusiawi pada para perempuan yang dilakukan dengan sadar atau tanpa sadar oleh para lelaki yang berada di lingkungan terdekat para perempuan itu sendiri. Sebut saja, teman Bung Karno di Bengkulu yang berprofesi sebagai guru namun tak mengizinkan sang istri keluar rumah dengan alasan ia menghargai istrinya itu bak sebutir mutiara. Tetapi justru sebagaimana orang menyimpan mutiara di dalam kotak, demikian pula mereka menyimpan istrinya itu di dalam kurungan.. (h.9).
Sukarno membagi keresahannya sendiri soal pencarian definisi yang pas untuk memerdekakan perempuan Indonesia. Disebutnya pemikiran Henriette Roland Holst yang menguraikan dilema perempuan saat harus memilih peran sebagai ibu atau sebagai pekerja. Bung Karno juga lantang menentang pergerakan feminisme Eropa yang menurutnya, mau menyamaratakan saja perempuan dengan laki-laki (h.11).  Ia pun mendukung gagasan Ki Hadjar Dewantara yang mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak tergesa-gesa meniru cara moderen atau cara Eropa, meski jangan pula terikat oleh rasa konservatif, melainkan mencocokkan segala hal sesuai dengan kodratnya (h.11-12).
Tak lupa, Sukarno juga mengajak pembacanya meninjau posisi perempuan menurut ajaran agama Islam. Saya beragama Islam, saya cinta Islam, tetapi saya bukan ahli fiqih. Bolehlah saya katakan di sini, di dalam masyarakat Islam pun masih ada soal perempuan. Kesan yang saya dapat, sama dengan kesan Frances Woodsmall sesudah beliau mempelajari posisi perempuan di dalam Islam, yakni, soal perempuan adalah justru bagian yang “most debated” (h.14).
Menutup argumennya di bagian awal Sarinah, Bung Karno menegaskan pokok bahasan yang ia kemukakan adalah soal posisi perempuan secara keseluruhan di dalam masyarakat, supaya posisi perempuan di dalam Republik Indonesia bisa ditempatkan sesempurna mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar