Mutiara di Dalam Kotak
Dari mana keresahan soal peran perempuan ini muncul dalam benak sang
proklamator? Alkisah, Bung Karno kerap bertamu ke rumah penduduk tanpa ‘woro-woro‘
(pemberitahuan). Seringkali hanya tuan rumah lah yang menerima
kunjungan Sukarno, sementara nyonya rumah tak ikut mendampingi. Kalau
toh ditanya soal ini, tuan rumah kerap berdalih, ..sayang seribu sayang, ia kebetulan tidak ada di rumah. Menengok bibinya yang sedang sakit (h.7).
Kejadian serupa itu dialami Bung Karno
beberapa kali, hingga suatu saat ia menangkap bayangan seorang perempuan
dari balik tabir yang tergantung di pintu pemilik rumah. Sejak saat
itu, benak sang proklamator dihantui ketakutan, ..bilakah semua Sarinah-Sarinah mendapat kemerdekaan? Meski kemudian ia mempertanyakan kembali pertanyaannya itu, ..tetapi, kemerdekaan yang bagaimana? Kemerdekaan a la Kartini? Kemerdekaan a la Chalidah Hanum? Kemerdekaan a la Kollontay? (h.9).
Sampai di sini para pembaca mungkin
bertanya, dari mana sang proklamator punya pemahaman soal beragam
‘versi’ kemerdekaan perempuan? Di bagian-bagian berikutnya, Sarinah
memaparkan wawasan Sukarno yang teramat luas dan mendalam sebagai bahan
argumen tingkat ‘tinggi’ dalam meyakinkan perlunya peran perempuan
dalam ‘perjuangan’ (yang belakangan hari dibahasakan sebagai
‘pembangunan’) negara.
Tanpa ragu Sukarno memberikan ilustrasi
adanya perlakuan kurang manusiawi pada para perempuan yang dilakukan
dengan sadar atau tanpa sadar oleh para lelaki yang berada di lingkungan
terdekat para perempuan itu sendiri. Sebut saja, teman Bung Karno di
Bengkulu yang berprofesi sebagai guru namun tak mengizinkan sang istri
keluar rumah dengan alasan ia menghargai istrinya itu bak sebutir
mutiara. Tetapi justru sebagaimana orang menyimpan mutiara di dalam
kotak, demikian pula mereka menyimpan istrinya itu di dalam kurungan.. (h.9).
Sukarno membagi keresahannya sendiri
soal pencarian definisi yang pas untuk memerdekakan perempuan Indonesia.
Disebutnya pemikiran Henriette Roland Holst yang menguraikan dilema
perempuan saat harus memilih peran sebagai ibu atau sebagai pekerja.
Bung Karno juga lantang menentang pergerakan feminisme Eropa yang
menurutnya, mau menyamaratakan saja perempuan dengan laki-laki
(h.11). Ia pun mendukung gagasan Ki Hadjar Dewantara yang mengingatkan
agar bangsa Indonesia tidak tergesa-gesa meniru cara moderen atau cara
Eropa, meski jangan pula terikat oleh rasa konservatif, melainkan mencocokkan segala hal sesuai dengan kodratnya (h.11-12).
Tak lupa, Sukarno juga mengajak pembacanya meninjau posisi perempuan menurut ajaran agama Islam. Saya
beragama Islam, saya cinta Islam, tetapi saya bukan ahli fiqih.
Bolehlah saya katakan di sini, di dalam masyarakat Islam pun masih ada
soal perempuan. Kesan yang saya dapat, sama dengan kesan Frances
Woodsmall sesudah beliau mempelajari posisi perempuan di dalam Islam,
yakni, soal perempuan adalah justru bagian yang “most debated” (h.14).
Menutup argumennya di bagian awal Sarinah,
Bung Karno menegaskan pokok bahasan yang ia kemukakan adalah soal
posisi perempuan secara keseluruhan di dalam masyarakat, supaya posisi
perempuan di dalam Republik Indonesia bisa ditempatkan sesempurna
mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar